Nov 20, 2013

Semakbelukar: Mereka Melayu, tapi Tidak Mendayu-dayu




Metal! Begitulah kata yang pantas disematkan kepada Semakbelukar. Tapi perlu diingat, metal yang satu ini bukanlah metal yang penuh dengan suara distorsi, growling ataupun blasting, melainkan sebuah akronim dari melayu total. Ya, Semakbelukar dengan bangga membawakan konsep Melayu sebagai jalur bermusik mereka. Melayu yang sebenarnya, bukan Melayu hasil pengidentikan yang menjadikan makna Melayu berkonotasi sebagai: band mainstream dengan lagu melankolis, liriknya bercerita tentang kisah cinta yang cheesy, ditambah ketika mereka perform ada saja ABG atau ibu-ibu labil menarikan gerakan absurd di barisan terdepan.

Tapi kamu tak perlu ragu kepada Semakbelukar. Grup yang berasal dari Palembang ini bertanggungjawab terhadap muatan mereka, dan berkat mereka derajat musik Melayu kembali tepat ke posisinya, dan tidak berakhir hanya sebagai labeling. Jika kamu pernah mendengar lagu-lagu daerah bernafaskan Melayu; dengan bunyi-bunyian seperti mandolin, gendang Melayu, akordeon, minigong, jimbana, ditambah dengan vokal merdu yang mengumandangkan lirik-lirik berima manis yang menyiratkan tentang epos kehidupan, maka itulah yang kamu dengar pula di Semakbelukar. Seperti EP mereka yang baru-baru ini dirilis oleh Elevation Records – sebuah label yang merilis band-band berbahaya semacam Sajama Cut dan Aurette and the Polska Seeking Carniva – benar-benar membuat saya takjub. 

Sama seperti EP mereka sebelumnya yang dirilis via netlabel Yes No Wave Music, Drohaka, ketika mendengarkan EP ini pertama kali, saya harus mengulanginya beberapa kali agar terbiasa dan merasa nyaman. Yah, mungkin karena kuping saya adalah kuping Jawa, sehingga ketika mendengarkan musik yang tidak berasal dari tempat saya tinggal dan jarang pula saya dengarkan, dibutuhkan sedikit adaptasi tentunya. Analoginya seperti lidah yang mencicipi makanan. Saya berasal dari Solo yang sering mencicipi makanan dengan rasa manis, ketika pertama kali mencicipi makanan dari daerah lain, tidak serta merta lidah saya mampu bersahabat dengan makanan itu. Sama seperti Semakbelukar, ketika kamu pertama kali mendengarkan EP ini mungkin ada penolakan dari kupingmu, “Musiknya aneh” begitu kiranya. Tapi percayalah, ketika kamu mendengarkan berulang kali, ada rasa nyaman yang dapat kamu temukan. 

Berisi delapan track, EP ini dirilis ke dalam dua format yaitu vinyl dan CD. Perpaduan alat musik khas lagu-lagu Melayu dengan lirik yang ajaib bak syair-syair pujangga tanah Sriwijaya, benar-benar membuat suatu harmonisasi “magis”. Dibuka oleh lagu rancak berjudul “Seloka Beruk”, lewat lagu ini Semakbelukar berusaha untuk menyampaikan protes tanpa sesuatu yang berapi-api dengan, “…Semenjak beruk menjadi pemimpin, halal dan haram pun dimakan…” Di detik-detik menuju lagu “Celaka” usai, ada akhir yang tak terduga, mereka seperti mengajak menari di atas kebodohan yang kita, para manusia, sering lakukan. Lagu favorit saya adalah “Merujuk Damai” Berbeda dengan lagu-lagu lain di album ini yang upbeat, “Merujuk Damai” hanya mengandalkan mandolin, tamborin dan vokal yang seksi sambil menyelipkan petuah hidup, “…Usah kau hiraukan lagi, terus berjalan tinggalkan saja. Rujuklah kembali damai yang kau tinggalkan. Di rumah itu dia menunggu…”

Semakbelukar dalam Industri Musik Tanah Air

Semakbelukar adalah grup musik dan sudah selayaknya mereka mempunyai suatu produk yang akan dikonsumsi khalayak ramai. Akan tetapi produk yang mereka hasilkan berbeda dari produk-produk yang ada di pasaran sekarang ini. Oke, mereka memang memainkan musik yang easy listening, tapi mereka sebenarnya juga melakukan perjudian karena pilihan musik yang mereka mainkan tidak terlalu familiar di kuping konsumen yang lebih berkiblat pada pop modern, bukan pop/folk tradisional yang Semakbelukar mainkan. Berada di industri non mainstream yang konon katanya penuh dengan musik-musik berkualitas, tapi tetap saja pilihan terakhir berada di tangan konsumen yang mana adalah orang-orang selektif yang mengapresiasi secara selera. Selera tidak bisa disalahkan, bukan? 

Memainkan sesuatu yang tradsional di era modern memang membutuhkan nyali yang besar. Ketakutan saya adalah Semakbelukar hanya menjadi pelengkap di industri ini. Karena mereka benar-benar memulai suatu era baru, butuh proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan demi karya mereka diapresiasi. Dan jikalau karya mereka diapresiasi, ketakutan kedua saya adalah, hanya “orang-orang tertentu” yang mau menikmati apa yang mereka hasilkan. “Orang-orang tertentu” yang saya maksud adalah orang-orang yang mau dan rela membuka indera pendengarannya demi sesuatu yang baru dan bukan jamak. Di industri non mainstream-pun, kadang kita terlalu terjebak dengan sesuatu yang jamak dan kadang enggan keluar untuk mencari sesuatu yang baru. Walaupun saya hanyalah seorang penikmat musik, tapi ketakutan saya adalah suatu hal yang beralasan. Semakbelukar adalah nafas baru bagi industri ini, bisa dibilang mereka adalah penyegar di tengah-tengah “keseragaman”. Memang jalur non mainstream ini mempunyai band/grup/duo/solo yang berkualitas. Tapi arah dan warna musik yang berada di jalur ini hanya melulu itu-itu saja. Tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan, namun kadang hal itu membuat kita menjadi jenuh dengan kondisi, dan ingin mencari sesuatu yang unik Maka dari itu seseorang butuh sesuatu yang baru, seseorang butuh pelampiasan akibat kejenuhan yang menghimpit, dan itu saya dapatkan dari Semakbelukar. Bukan melebih-lebihkan, mereka memang oase di tengah padang industri yang gersang ini. Mereka memang pantas diapresiasi!

Terlepas dari peluang Semakbelukar di industri ini, sejatinya mereka adalah orang-orang yang berjiwa besar yang berani membawa kearifan lokal mereka ke ranah yang lebih luas. Melaui Semakbelukar kita bisa menikmati musik tradisional tapi dengan cita rasa kontemporer. Menarik, ketika suatu saat nanti Semakbelukar menjadi role model dari band/grup yang mencoba untuk mengangkat kearifan lokal ke pasaran yang lebih luas. Jika ini terjadi berarti kita telah ikut campur tangan dalam melestarikan kearifan lokal di samping menikmati musik dengan bentuk lama tapi dengan gaya baru. Dan ini juga menjadi indikasi bahwa pegiat musik sekarang tidak hanya didominasi oleh orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa. Dulu kita mengenal The New Wave of British Heavy Metal dan Britpop, kini saatnya Pulau Sumatera – dan juga pulau-pulau lain di Indonesia – menjadi penerus “pergerakan” itu karena musik tidak ada sistem keterpusatan, bung! Ini semata-mata supaya industri musik Indonesia semakin kaya akan musik-musik berkualitas, tidak monoton di itu-itu saja.

Seperti kata Semakbelukar di lagu “Be(re)ncana”, “…hanya karena berbeda tak berarti hilang muka…”

No comments:

Post a Comment